Rabu, 21 Oktober 2009

Cermin Terbalik (Antologi Puisi): Surat terbuka untuk Bapak Presiden

Cermin Terbalik (Antologi Puisi): Surat terbuka untuk Bapak Presiden

Rabu, 14 Oktober 2009

40 Tahun Lalu Al-Aqsha Dibakar Namun Api Itu Masih Menyala Hingga Kini

40 Tahun Lalu Al-Aqsha Dibakar Namun Api Itu Masih Menyala Hingga Kini

Katagori : Consipiracy
Oleh : Redaksi 24 Aug, 09 - 10:00 pm

Pada tahun ke 40 peristiwa pembakaran ini, Masjid Al-Aqsha masih menjadi target yahudisasi pemerintah radikal Zionis Israel, termasuk di dalamnya sejumlah organisasi Zionis baik yang resmi ataupun swasta. Mereka semua terus berupaya membangun Haikal di atas reruntuhan Al-Aqsha.

Saat itu, warga Al-Quds baru sadar atas kedengkian pihak Zionis terhadap Al-Aqsha. Mereka baru sadar ketika lidah api dan asap menyelimuti kubbah masjid dan suara takbir bersahutan dari menara masjid. Namun api sudah menghanguskan mimbar Shalahudiin, membakar bangunan dan mihrab Nabi Zakaria serta ukiran kayu yang terdapat di dalamnya. Sementara itu, pemerintah Zionis hingga kini tidak pernah mundur dari niatnya untuk menguasai Al-Quds. Mereka juga membangun otoritas purbkala di bawah Masjid Al-Aqsha. Mereka mengklaim bagian selatan Al-Aqsha dimana terdapat Mushollah Marwan akan segera roboh. Hal ini dilakukan untuk menghalangi warga Palestina melanjutkan renovasi mushollah tersebut yang merupakan bagian terbesar dari Masjid Al-Aqsha.

Rincian Al-Haram Al-Quds

Al-Haram Al-Quds menempati wilayah seluas 144 hektar, mencakup sejumlah musholla. Bangunan utama adalah Masjid Al-Aqsha yang berada di sebelah selatan al-Haram menempel dengan tembok bagian selatan dekat wilayah Silwan dan Wadi Qadran. Adapun Tembok Barat disebut juga sebagai dinding Al-Buraq yang bergabung dengan Masjid Al-Aqsha di sebelah bawahnya. Ruangan tersebut telah diperbaiki dan dapat menampung ribuan kaum muslimin. Sementara Musholla Marwan bersebalahan dengan Al-Aqsha lama di bagian timurnya. Bangunan ini merupakan bangunan lama yang telah diperbaharui dan dapat menampung ribuan jama’ah pula.

Selain itu, ada bangunan Qubbah Sakhra yang berada di tengah areal Al-Haram, berada di sebelah utara dari Masjid Al-Aqsha. Bangunan ini merupakan bangunan terindah yang menampakan teknik tertinggi dan citra rasa seni serta kemewahan. Qubbahnya yang terkenal paling indah dan terbesar di dunia. Bangunan ini terletak di atas tanah tinggi dari Al-Haram al-Quds yang merupakan tempat mi’rajnya Rasulallah ke langit ke tujuh, setelah beliau melakukan perjalanan malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha.



Tokoh-Tokoh Palestina Himbau Selamatkan Al-Aqsha

Sejumlah tokoh dan da’i Palestina hingga kini menyerukan semua pihak untuk menyelamatkan Masjid Al-Aqsha dari siasat yahudisasi dan blockade Israel. Warga Palestina mengingatkan semua orang atas kebijakan Zionis terhadap Masjid Al-Aqsha dan Al-Quds. Mereka masih melanjutkan penggalian serta pembuatan terowongan di bawah masjid dan sekitarnya.

Seperti diungkapkan, Ketua Komisi Al-Quds di parlemen Palestina, DR. Ahmad Abu Halbiyah yang mengingatkan situasi yang semakin memburuk menimpa Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha. Pemerintah Israel menerapkan kebijakan spektakuler dalam upayanya meyahudikan Kota Suci ummat yang sudah memasuki tahap akhir.


Komplek Al Aqsa bersebelahan dengan WAILING WALL/Tembok Ratapan


Pase Berbahaya


Menorah Yahudi Dipasang di Hadapan Masjid Al Aqsha

Dalam penjelasanya kepada Infopalestina, Abu Halbiyah mengungkapkan kekhawtiranya atas situasi yang terus berkembang. Kami khawatir kita telah memasuki saat yang paling berbahaya. Entitas Zionis saat ini dalam tahap akhir dari yahudisasi Al-Quds. Secara sempurna rencana mereka akan selesai pada tahun 2020. Dimana Al-Quds akan menjelma menjadi kota yahudi, termasuk di dalamnya pendirian Haikal yang mereka impikan. Dengan kata lain, kita sedang menyaksikan tahap akhir dari yahudisasi yang paling berbahaya.

Ketua komisi Al-Quds ini menegaskan tentang pentingnya menyelamatkan kota Al-Quds secepatnya, dengan menghentikan siasat pengusiran warga Palestina melalui pemberian bantuan yang diperlukan bagi mereka. Al-Quds dan warganya saat ini sangat butuh bantuan. Lebih dari setengah milyar setiap tahunya dibutuhkan warga Al-Quds untuk memperjuangkan wilayahnya dari upaya pengusiran Zionis.

Sementara itu, kondisi kejiwaan warga sebenarnya sudah sangat sulit dan berat. Mereka membutuhkan dukungan dan kesabaran yang tinggi. Dengan ini Abu Halbiyah meminta bangsa Arab dan Islam secepatnya menyelamatkan Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha.

Peringatan 40 Tahun Pembakaran Bersamaan Dengan Kebijakan Pengosongan Al-Quds


Peristiwa Pembakaran Al-Aqsa 21 Agustus 1969

Sejumlah da’i dan pemimpin Palestina mengisyaratkan peringatan peristiwa pembakaran Al-Aqsha kali ini bersamaan dengan kebijakan pemerintah Zionis untuk membersihkan kota Al-Quds dari warga Arab dan Islam. Mereka menerapkan kebijakan sebagaimana diterapkan pada Masjid Al-Ibrahimi di Hebron. Disamping terus melakukan penggalian terowongan dan perubahan demografi serta keagamaan kota tersebut hingga menjadi kota Yahudi.

Para da’I dan pemimpin Palestina menyerukan para pemimpin Arab dan kaum muslimin serta sejumlah lembaga internasional, ikut ambil bagian dalam menghentikan kebijakan Zionis terkait yahudisasi ini.

Pada saat yang sama, mereka menyerukan kaum muslimin untuk mengunjungi al-Aqsha demi melindungi dan memakmurkan masjidnya.


Peristiwa Pembakaran Al-Aqsa 21 Agustus 1969


Shalah Seru Selamatkan Al-Aqsha


Syaikh Raed Shalah

Di pihak lain, Ketua Gerakan Islam di wilayah Palestina jajahan 48, Syaikh Raed Shalah meminta pembentukan badan social Islam dan Arab untuk menyelamatkan Masjid Al-Aqsha dan kota Al-Quds. Ia mengatakan, Zionis sedang bersungguh-sungguh merubah Al-Quds menjadi kota Yahudi dan membagi Al-Aqsha antara kaum muslimin dan kaum Yahudi. Al-Aqsha saat ini, sedang menghadapi pase yang paling berbahaya dalam sejarahnya. Lebih berbahaya dari perang Salib dan perang Tatar, ungkapnya.

Dalam sejumlah konferensi yang diadakan Pusat Kajian Palestina, Raed Shalah menyebutkan tentang pentingnya mobilisasi sejumlah pengacara dan insinyur untuk melihat masalah perumahan dan kependudukan di Al-Quds. Hal ini merupakan tanggung jawab menteri urusan Al-Quds Palestina. disamping pentingnya kerja sama antara faksi-faksi Palestina walaupun secara minimal untuk menyelamatkan al-Quds dari yahudisasi. Disamping itu perlu pengembangan dalam bidang pencatatan warga Al-Quds melalui lembaga pencatan sipil, serta pembuatan pusat kajian setrategis dan pembahasan proyek serius terkait Al-Quds dan Al-Aqsha.

Sebelumnya, lembaga Al-Aqsha untuk pemeliharaan dan pembangunan tempat suci ummat meminta dunia Arab dan Islam, baik secara resmi pemerintahan atau rakyatnya untuk menggagalkan realisasi rencana Zionis dalam membagi Al-Aqsha dan pembangunan Haikal.

Kebijakan pembagian Al-Aqsha lebih berbahaya dari pada pembakaran masjid. Ia meminta semua pihak bertanggung jawab dan bergerak baik secara resmi melalui pemerintahan ataupun tekanan dari rakyat untuk menggagalkan rencana Zionis tersebut. (asy/infopal)



Rabu, 26 Agustus 2009

35% Pendeta Protestan Terlibat Internet Pornografi


Bookmark and Share
Dikutip dari swaramuslim.com


Dua psikolog Kristen yang telah menyarankan sejumlah gereja-gereja dan kelompok masyarakat mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan seks yang menjangkiti masyarakat telah merilis sebuah buku yang membahas masalah kecanduan pornografi internet di kalangan orang Kristen, termasuk pendeta, dan menggambarkan masalah-masalah yang disebabkan kecanduan jenis ini.

Buku “Behind Closed Doors”, yang ditulis oleh Drs. Robert. J. Baird dan Ronald Vanderbeck dari Amerika Serikat, juga menyediakan solusi lengkap bagaimana orang dapat mematahkan siklus kecanduan ini.

Kami melihat ini sebagai epidemi global yang tidak akan pergi," kata Baird. "Kami mencoba untuk mereli komunitas iman melintasi garis denominasi untuk bekerja sama dan memerangi sisi gelap ini hal dengan informasi yang berguna dan nyata," katanya. Menurut Baird, lebih dari tiga puluh lima persen dari pendeta Protestan yang ia dapat masukkan ke dalam sebuah tesis untuk gelar Ph.D-nya mengatakan mereka telah menggunakan internet pornografi.

Survei lain telah menghasilkan hasil yang sama, termasuk oleh survei Pastors.com pada tahun 2002, yang mengungkapkan bahwa 54 persen dari pendeta mengatakan pernah melihat hal porno dalam satu tahun terakhir, dan survei tahun 2000 oleh Christianity Today, yang menemukan bahwa 37 persen dari pendeta berkata pornografi adalah "pergumulan mereka saat ini."

"Mereka (pendeta) tidak kebal dan berada dalam resiko, karena mereka sering bekerja dengan komputer mereka dan tidak mempertanggungjawabkan waktu mereka," catat Baird yang mendasarkan Behind pada kisah-kisah nyata yang ia dan Vanderbeck temukan dalam dalam sesi konseling mereka.

Baik Vanderbeck Baird dan sering melakukan pekerjaan konsultasi dan menawarkan nasihat ke pengadilan, lembaga pelayanan sosial, gereja, dan organisasi masyarakat yang mencari solusi untuk kesulitan seksual yang menjangkiti begitu banyak orang di masyarakat saat ini.

Dalam setiap bab dari Behind Closed Doors, sebuah kisah nyata seseorang hadapi situasi disajikan dan diikuti dengan analisis situasi dan referensi alkitabiah yang dapat menginspirasi harapan.

Penulis juga memberikan saran, yang timbul dari pengalaman mereka sendiri dan pengetahuan, dan menawarkan strategi tentang bagaimana seseorang dapat "memperbarui dan mengembalikan seksualitas yang sehat," menurut buku tersebut.

"Kami memutuskan empat atau lima tahun yang lalu bahwa kami perlu membawa kesadaran akan masalah ini ke komunitas iman," kata Vanderbeck.

"Keluarga Kristen terutama sangat rentan," ia menambahkan. "Sering kali keluar dari rasa malu yang kuat, orang tua tidak mau atau mampu untuk berbicara secara terbuka dan penuh cinta dan dengan cara yang baik tentang masalah ini kepada anak-anak mereka. Sebagian apa yang kita lakukan adalah mencoba membuka dialog antara orangtua dan anak."

Topik yang dibahas termasuk godaan pornografi Internet, menghadapi seorang yang kecanduan seksual, dan bertobat dari hal itu. Ini juga terlihat pada masalah Internet chat room, siklus destruktif pelecehan seksual, dan bagaimana melindungi anak dari predator seksual di Internet.

"Kita hidup dalam budaya yang sangat seksual dan dikondisikan untuk percaya bahwa potensi seksual harus menjadi fungsi utama dari gaya hidup kita," kata Vanderbeck. "Seks di Internet seperti obat. Ini adalah proses yang sangat menggoda dan orang dapat menjadi diperbudak olehnya."

"Kami percaya bahwa komunitas Kristen harus mendapatkan semua informasi yang diperlukan untuk dapat melawan thal ini dan belajar untuk berbicara tentang hal itu dengan cara yang sehat," Baird menambahkan.

Faith Alive, sebuah lembaga penerbitan dari Gereja Reformasi Kristen dan Gereja Reformasi di Amerika, bekerja sama dengan penulis untuk mencoba untuk mengembangkan bahan-bahan lain yang dapat digunakan bersama dengan buku ini, seperti panduan belajar dan video.

Buku lain dari Faith Alive, adalah Mencegah Penganiayaan Anak: Menciptakan Tempat yang Aman oleh Beth Swagman, direktur Safe Church Office dari CRC, juga membahas beberapa topik di Behind Closed Doors. Buku Swagman terutama diarahkan untuk membantu gereja-gereja dan organisasi nirlaba melalui proses merancang dan melaksanakan kebijakan dan prosedur yang mereka butuhkan untuk menjaga anak agar aman. [chtp/www.hidayatullah.com]

Selasa, 21 Juli 2009

Derita Muslim Patani Yang Terlupakan

Mohon tidak menulis dengan Pattani tetapi cukup Patani saja, yaitu dengan huruf t nya hanya satu, itu salah satu himbauan warga muslim Patani dalam situsnya http://patanikini.wordpress.com/..

Beberapa kali kunjungan ke Thailand terutama di Provinsi yang berada di bagian selatan terasa seperti di Malaysia saja. Agak berbeda dengan di Utara, daerah yang berbatasan dengan Myanmar dan Laos ini meskipun banyak komunitas muslim nya.

Di Thailand Utara di beberapa povinsi seperti Chiang Rai, Chiang Mai, Udhon Thani, banyak komunitas muslim yang cukup sukses, bahkan di sana ada Bank Syariah. http://imbalo.wordpress.com/2007/12/26/bank-islam-dan-makanan-halal/

Sebenarnya tidak hanya di Thailand saja umat islam terpinggir kan , di Miyanmar, Laos dan Kamboja pun demikian, di Vietnam di negara yang menganut komunis itu masih agak mendingan, meskipun untuk bertamu sesama muslim di sana di batasi sampai pukul 9 malam saja. http://imbalo.wordpress.com/2007/12/24/muslim-cina-di-cheang-rai/

Dibawah ini kami kutipkan tulisan ari http://eramuslim.com

Berbicara perjuangan Islam di Asia Tenggara, tentu tidak akan melepaskan Muslim Patani, Thailand. Patani bisa dikatakan bernasib seperti Palestina di Timur Tengah. Dan jika Palestina dijajah oleh Israel, maka Muslim Pattani ditindas oleh Thailand.

Sejarah Muslim Patani

Padahal, dulu sekali Muslim Patani adalah sebuah kerajaan Islam. Pada tahun 1457, daerah Patani—sekarang menjadi Pattani—berpenduduk mayoritas Melayu Muslim. Kondisi Patani saat itu persis dengan beberapa wilayah sekitarnya seperti Perlis, Kelantan, dan lainnya yang terletak di Malaysia.

Tahun 1875, Thailand pertama kali datang ke Patani dan langsung menduduki daerah itu. Kedatangan Inggris ke Semenanjung Malaka menghasilkan perjanjian dengan Thailand, yaitu Patani dikuasai oleh Thailand dan Perlis dan wilayah lainnya dimiliki oleh Inggris. Kemudian hari Inggris menyebut daerah jajahannya dengan sebutan Malaysia.

Muslim Patani saat itu dipaksa untuk menjadi bagian dari Thailand atau ketika itu masih bernama kerajaan Siam. Namun, karena kependudukan itu, tak pelak terjadi pergolakan di daerah Pattani sampai sekarang. Sebuah reaksi yang wajar karena Muslim Pattani terus melawan para penjajah itu.

Peran ulama dalam perjuangan Muslim Patani

Terjadi banyak sekali pergerakan dan perlawanan untuk membebaskan Pattani dari cengkeram Thailand. Maka tidak heran jika hal ini selalu memunculkan berbagai kelompok pergerakan yang umumnya dimotori oleh ulama Patani. Dalam sejarah perjuangannya, sertidaknya ada tiga golongan ulama.

Ulama yang pertama adalah mereka yang terjun langsung mengangkat senjata. Di siang hari, mereka berprofesi sebagai pendidik, pengacara, pebisnis atau profesi lainnya. Namun pada malam hari mereka menenteng senjata dan terjun langsung ke medan pertempuran. Ciri-ciri gerakan ini adalah, mereka menitikberatkan pada ajaran-ajaran (ayat-ayat) yang mengandung Jihad. Mereka juga menolak pembangunan atau rencana pembangunan dari pemerintah Thailand. Kelompok ulama ini menjunjung tinggi pejuang-pejuang revolusi dunia, salah satu contohnya adalah Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.

Ulama yang kedua adalah mereka yang pro terhadap pemerintah Thailand. Hal ini dilandasi prinsip bahwa mereka tidak merasa ditindas oleh kerajaan Siam. Memang, Thailand menganut sistem bebas menganut agama apapun, ini terbukti dengan berbagai ritual peribadatan juga dibolehkan di sana. Kelompok ulama ini memilih bekerja sama dengan Thailand, bahkan tidak jarang menjadi kaki tangan kerajaan Siam ketika ada rencana pembangunan di Provinsi Pattani. Mereka berpendirian bahwa Islam menjunjung tinggi perdamaian, sehingga menghindari konflik dengan pemerintah. Mirip seperti di Indonesia.

Kemudian tipe ulama yang ketiga adalah mereka yang berada di antara dua kelompok ulama lainnya. Mereka akan bereaksi menentang pemerintah Thailand jika terjadi pembantaian terhadap muslim. Namun mereka akan diam jika merasa tidak terjadi apa-apa. Saat ini fakta bahwa tidak ada seorangpun yang secara terang-terangan mengaku menjadi pejuang, perjuangan dilakukan secara sembunyi-sembunyi (underground).

Penderitaan Muslim Patani

Penderitaan yang dialami oleh warga Muslim di Thailand Selatan sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun. Warga minoritas Muslim tidak bisa hidup tenang karena berada di bawah bayang-bayang kecemasan dan drama kehidupan yang mencekam.

Selama ini sudah terjadi banyak pertumpahan darah di bumi Patani. Pembantaian Muslim Patani hampir sama persis seperti yang terjadi di negara-negara Muslim terjajah lainnya. Misalnya saja, para Muslim Pattani dibunuh ketika sedang shalat di masjid. Selama ini tragedi berdarah di Pattani hampir jarang terdengar, ini karena pemerintah Thailand memang membatasi dan menguasai semua arus informasi tentang Patani. Misalnya saja, orang banyak yang menganggap bahwa konflik Pattani hanya sebuah masalah internal Thailand.

Di Pattani, kerukunan antar-agama jarang terlihat. Dulu, muslim Patani sering memberikan makanan kepada para Biksu. Namun kini hal itu tidak terjadi. Itu karena perlakuan buruk yang sering diterima oleh Muslim Patani.

Perlakuan pemerintah Thailand terhadap Muslim Patani memang buruk. Mereka diharamkan untuk menyimpan buku-buku sejarah Pattani. Kesadaran historis mereka dilenyapkan oleh tangan besi pemerintah dan militer Thailand yang sangat khawatir kalau warga Muslim ini sadar bahwa mereka adalah orang-orang Melayu, dan bukan orang Thailand. Mereka dilarang keras berbicara dalam bahasa Melayu. Semua hal harus di-Thailandkan: bahasa sehari-hari, bahasa pengantar di sekolah-sekolah, dan nama-nama mereka. Tidak boleh memakai bahasa Melayu. Semuanya harus menggunakan bahasa Siam (Buddha), bahasa Kerajaan Thailand. Selain masalah bahasa dan sejarah, mereka juga dikondisikan dalam keadaan selalu mencekam. Di setiap sudut jalan, selalu ada tentara berseragam militer lengkap dengan senjata otomatisnya.

Solusi Muslim Patani

Jadi apa kiranya solusi yang bisa dilakukan untuk Muslim Patani? Sepertinya saat ini, satu-satunya jalan keluar untuk mengatasinya adalah dengan mengadakan jajak pendapat atau pemungutan suara, dengan adanya pihak ketiga sebagai penengah. Namun jelas pihak ketiga tidak berasal dari negara yang memang sudah mempunyai sentimen terhadap Islam sebelumnya seperti Barat, ataupun Amerika.

Dengan adanya pemungutan suara akan memunculkan keinginan murni dari muslim Patani mengenai nasib dan masa depan mereka agar tak lagi terjajah sepanjang hidupnya. (sa/berbagai sumber)

Senin, 06 Juli 2009

60 Tahun Pembantaian Muslim Burma



Burma selalu indentik dengan Aung San Suu Kyi. Orang tak pernah tahu bagaimana perjuangan dan kondisi Muslim Burma selama ini. Kelompok aktivis hak asasi manusia internasional hanya membciarakan Suu Kyi, padahal SLORC (State Law and Order Restoration Council—atau Dewan Restorasi Penguasa dan Hukum Negara) melakukan banyak tindakan brutal terhadap Muslim Burma.

Opresi Burma mulai muncul ke permukaan pada 1998 seiring dengan munculnya Suu Kyi yang mendapatkan penghargaan perdamaian Nobel di tahun 1991. Tahun 1886, Inggris menjajah Burma, dan sebelumnya umat Muslim dan Hindu di negara ini hidup berdampingan dalam damai. Tahun 1938, Inggris mulai menurunkan tangan besinya. Lebih dari 30.000 Muslim Burma dibunuh secara missal, dan 113 masjid diberangus. Setelah kemerdekaan Burma tahun 1948, nasib bangsa Muslim tidak juga berubah. Mereka menjadi korban kekerasan pemerintah dan militer, dan jumlahnya bahkan sampai 90.000 ribu orang yang tewas.

Tahun 1961, pemerintah Burma menyatakan bahwa Budha adalah agama negara dan semua orang Islam harus belajar nilai dan budaya agama Budha. Lewat kudeta militer, Jenderal Ne Win mendeklrasikan Burma sebagai Negara sosialis. Tahun 1982, Ne Win menyatakan Muslim Rohingya sebagai pendatang ilegal. Sementara diskriminasi terhadap Muslim Burma terus berjalan tanpa diketahui banyak oleh dunia internasional.

Tahun 1990. Aung San Suu Kyi memenangkan pemilu untuk pertama kalinya. Namun SLORC, tidak mengakui kemenangan Suu Kyi dan sebaliknya menangkap dan memenjarakannya. Bukan hanya pada Suu Kyi, SLORC juga kejam terhadap Muslim Burma. Mereka tak segan menembak langsung ditempat jika mendapati orang Islam sedang shalat di masjid. Para Muslimah Rohingya juga kerap dijadikan sasaran pemerkosaan oleh tentara Burma.

Tanggapan dunia internasional? Seperti biasa, bersikap ganda. Di satu sisi, AS mengecam pemerintah Burma karena penangkapan dan penyiksaan aktivis kemanusiaan seperti Suu Kyi, namun di sisi lain mengabaikan nasib Muslim Burma yang jelas-jelas menjadi korban kebiadaban yang tak berkesudahan.

Saat ini, perjuangan Muslim Burma terkumpul dalam The Rohingya Solidarity Alliance, sebuah front militer Islam. Mereka terus berjuang melawan ketidakadilan dan penindasan yang diberlakukan oleh rejim-rejim yang tak punya rasa kemanusiaan.

Jumat, 08 Mei 2009

Vaksinasi Dan Sistem Dajjal (Vaksin Meninghitis Mengandung Enzim Babi)

Berita yang memuat hasil temuan LPPOM Majelis Ulama Islam Sumatera Selatan yang menyimpulkan bahwa Vaksin Meningitis mengandung enzim porchin dari babi ternyata berbuntut panjang. Bagaimana tidak, sebab Vaksin Meningitis diharuskan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi bagi calon jamaah haji Indonesia, bahkan seluruh jamaah haji sedunia.

Anggota Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara' (MPKS) Departemen Kesehatan (Depkes), Prof Jurnalis Udin berkata: ''Pemerintah berniat melindungi rakyat, karena Pemerintah Arab Saudi mewajibkan calon jamaah haji harus divaksin supaya tidak terserang meningitis.'' ( Koran Republika Kamis, 30 April 2009 pukul 23:27:00 )

Mau berangkat melaksanakan ibadah malah disyaratkan untuk dimasukkan terlebih dahulu zat najis ke dalam tubuh para hamba Allah tersebut..! Kalau kita ikuti pemberitaan soal kasus ini -di harian yang sama- ternyata pendapat yang muncul saling kontra satu sama lain.

Ada sementara fihak yang terkesan meringan-ringankan masalahnya dan ada fihak lainnya yang tampak sangat peduli dan prihatin.

Pertama, hasil temuan LPPOM Majelis Ulama Islam Sumatera Selatan tersebut sudah melewati forum diskusi dengan para pakar, diantaranya pakar farmakologi Prof Dr T Kamaluddin Ketua Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya (Unsri), pakar penyakit dalam dan pakar dokter anak. Artinya, ini bukan sekedar suatu lontaran yang diajukan oleh sekumpulan ulama yang hanya bergerak di bidang ilmu agama Islam semata. Ternyata mereka dengan penuh tanggung-jawab sudah melibatkan fihak yang memang membidangi urusan terkait. Sehingga sangat tidak pantas jika Departemen Kesehatan (Depkes) meragukan dugaan temuan LPPOM MUI Sumatra Selatan tentang kandungan enzim babi dalam vaksin meningitis (radang selaput otak) yang biasa digunakan jamaah haji dan umrah Indonesia. Jadi apa yang mereka sampaikan tentang vaksin meningitis yang mengandung enzim babi bukan tanpa melalui kajian. (Republika Newsroom Senin, 27 April 2009 pukul 11:42:00)

Sekretaris MUI Sumsel KH Ayik Farid berkata: �Dalam Rakernas MUI sudah kami sampaikan bahwa proses pembuatan vaksin meningitis tersebut menggunakan enzim porchin dari binatang babi. LPPOM MUI Pusat juga sudah mengakui itu, namun karena sudah ada kontrak pengadaan vaksin tersebut selama lima tahun maka penggunaannya tidak bisa diganti.� (Republika Newsroom Senin, 27 April 2009 pukul 11:42:00)

Benarkah hanya karena terlanjur sudah ada kontrak pengadaan vaksin selama lima tahun, maka penggunaannya tidak bisa diganti? Walaupun itu berarti mewajibkan terus-menerus jamaah haji untuk memasukkan ke dalam tubuhnya �lebih tepatnya ke dalam darahnya- zat najis yang tentunya bisa merusak ke-mabrur-an ibadah hajinya?

Kedua, ternyata kasus vaksin meningitis mengandung enzim babi ini merupakan kasus lama. Pemerintah �dalam hal ini Depkes dan Depag- sudah mengetahui hal ini sejak lama. Bahkan Direktur LPPOM MUI, Nadratuzzaman, mengatakan bahwa pemerintah sendiri sudah mengetahui kasus ini, tapi hanya mendiamkan saja. Laa haula wa laa quwwata illa billah...! Jadi, ini bukan suatu kasus yang baru terdeteksi sekarang. Ia sudah diketahui sejak lama. �Nadratuzzaman menyayangkan sikap pemerintah yang hanya berdiam diri, padahal mereka sudah tahu masalah ini sejak lama. Pihaknya mengaku telah mengirimkan surat berkali-kali ke Departemen Kesehatan agar mengganti vaksin yang mengandung enzim babi itu. "Tapi, tidak ada balasan. Mereka hanya menganggap kita membuat resah masyarakat," ujarnya menegaskan.� (Koran Republika Rabu, 29 April 2009 pukul 23:41:00)

Mengapa kasus yang demikian besar pengaruhnya bagi ke-mabrur-an jamaah haji dibiarkan berlarut-larut oleh pemerintah cq Depkes dan Depag?

Ketiga, pejabat tertinggi di kedua departemen yang paling bertanggungjawab dalam masalah ini tidak memberikan respon sebagaimana mestinya. Malah terkesan mengelak atau menyalahkan fihak lain. Menteri Kesehatan misalnya malah membantah tanpa pikir panjang bahwa vaksin Meningitis mengandung enzim babi. �Depkes pernah melakukan penelitian kandungan vaksin itu dan ternyata negatif mengandung enzim babi. ''Tidak ada itu, tidak betul tuh,'' ujar Menteri Kesehatan (Menkes), Siti Fadilah Supari, dalam pesan singkatnya yang diterima Republika, Senin (27/4).� (Republika Newsroom Senin, 27 April 2009 pukul 16:52:00)

Tanggapan Menteri Agama bahkan terdengar lebih aneh dan cenderung menyalahkan fihak lain: ''Saya sangat kecewa dan menyayangkan cara penyampaiannya yang dilakukan MUI. Mestinya, cukup disampaikan kepada kami, Menteri Agama dan Menteri Kesehatan. Sehingga, tidak membuat gelisah calon jamaah haji,'' papar Menag. (Koran Republika Selasa, 28 April 2009 pukul 23:33:00)

Apakah respon kedua petinggi ini mencerminkan sikap bertanggung-jawab? Apakah mereka berdua tidak memahami efek syar�i yang ditimbulkan sebagai akibat adanya kandungan enzim babi di dalam vaksin Meningitis bagi jamaah haji? Ataukah keduanya memang sudah terikat dengan sebuah �protap� yang harus dipatuhi sehingga mereka terkesan menganggap remeh perkara ini?

Keempat, selama ini pemerintah berlindung dibalik status hukum �darurat� sehingga vaksin yang mengandung zat najis tetap diberikan kepada jamaah haji kita. Pemerintah berdalih bahwa vaksin Meningitis sangat penting untuk mencegah terjadinya penularan penyakit mematikan radang selaput otak sedangkan vaksin dengan kandungan enzim babi tersebut merupakan satu-satunya solusi untuk mengatasinya. Jadi, dalam rangka menghindari suatu kemudharatan yang lebih besar maka diambillah kemadharatan yang lebih kecil, yaitu memandang �halal� apa yang asalnya �haram� .

Namun Sekretaris Umum MUI Pusat Ichwan Syam berkata: ''Tapi setelah kita yakin ada gantinya, apalagi saya dengar Malaysia sudah menggunakan vaksin dari sapi, tentunya lain masalahnya.� Lebih lanjut Ichwan Syam menegaskan bahwa pemerintah harus proaktif mencari pengganti vaksin tersebut. (Republika Newsroom Jumat, 01 Mei 2009 pukul 11:35:00)

Senada dengan itu Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ali Mustafa Yakub menuturkan, penggunaan vaksin meningitis berenzim babi diperbolehkan dengan syarat: pemakaian vaksin itu diharuskan dan bisa berbahaya bagi keselamatan jiwa, bila tak menggunakannya, sedangkan vaksin halal tak ada. Hal itu disebutnya sebagai kondisi darurat. ''Namun, jika setelah ada solusi, maka vaksin yang mengandung enzim babi itu harus diganti.'' (Koran Republika Sabtu, 02 Mei 2009 pukul 23:37:00)

Kelima, ternyata bukan hanya vaksin Meningitis yang mengandung enzim babi. Tetapi banyak vaksin lainnya mengandung enzim babi serupa. Hal ini jelas diutarakan oleh Direktur LPPOM MUI Nadratuzzaman. Ia berkata: "Ini masalah lama, kita tahu, Depertemen kesehatan juga tahu. Banyak vaksin yang mengandung enzim babi, bukan hanya vaksin meningitis saja.� (Republika Newsroom Selasa, 28 April 2009 pukul 19:29:00).

Masalah vaksinasi dengan kandungan enzim babi merupakan masalah khusus bagi umat Islam. Umat lainnya tidak peduli dengan halal-haramnya vaksinasi. Namun perlu diketahui bahwa bagi mereka yang bukan muslim vaksinasi juga merupakan masalah, sebab dari segi kesehatan fisik ternyata juga mengandung mudharat. Dan tentunya jika secara fisikpun ia membawa mudharat, bararti bagi ummat Islam lengkaplah sudah alasan untuk meninggalkan vaksinansi sepenuhnya. Vaksinasi haram secara tinjauan syar�i dan ia mudharat secara tinjauan medis.

Dalam sebuah situs bernama informationliberation:The news you�re not suppose to know terdapat sebuah video yang menjelaskan bahaya vaksinasi bagi ummat manusia. Video tersebut melibatkan para dokter medis, peneliti dan pengalaman beberapa orang tua dalam hal vaksinasi. Video tersebut bernama Vaccination:the Hidden Truth (Vaksinasi: Kebenaran yang Disembunyikan). Sudah banyak orang menjadi sadar untuk meninggalkan budaya vaksinasi sesudah menonton video ini. Bagi yang berminat silahkan click http://www.informationliberation.com/?id=13924 . Di dalam situs itu ditulis:

�Find out how vaccines are proven to be both useless and have harmful effects to your health and how it is often erroneously believed to be compulsory.� (Temukan bagaimana vaksin terbukti sia-sia belaka dan malah mengandung efek berbahaya untuk kesehatan Anda dan bagaimana ia sering keliru diyakini sebagai wajib)

Keenam, benarkah vaksin Meningitis merupakan suatu persyaratan yang tidak bisa tidak bagi setiap calon jamaah haji? Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ali Mustafa Yakub mensyaratkan dua hal untuk menetapkan suatu keadaan darurat, yaitu: (1) pemakaian vaksin itu diharuskan dan bisa berbahaya bagi keselamatan jiwa, bila tak menggunakannya; serta (2) vaksin halal tidak tersedia.

Baiklah, andai kita asumsikan bahwa memang vaksin halal bisa diperoleh, lalu apakah itu sudah cukup alasan untuk mewajibkan jamaah haji diberikan �vaksin Meningitis halal� tersebut? Pernahkah para pakar medis benar-benar melakukan penelitian untuk membuktikan bahwa keselamatan jiwa terancam bila vaksin tersebut tidak diberikan? Benarkah selama ini vaksin Meningitis memang efektif untuk mencegah penularan penyakit radang selaput otak? Apakah tidak ada satupun jamaah haji Indonesia yang mencapai duaratusribuan orang lolos masuk ke tanah suci tanpa diberikan vaksin Meningitis? Lalu kalau benar ternyata ada yang lolos pernahkah kita mendengar kabar jamaah Haji Indonesia meninggal lantaran penyakit mematikan tersebut, padahal setiap tahunnya ada saja jamaah kita yang meninggal di musim haji?

Kita memandang perlu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini karena bukan rahasia lagi bahwa sebagian dokter tidak terlalu meyakini efektifitas vaksin ini. Bahkan tidak jarang kita temui dokter yang mengizinkan seseorang berangkat haji tanpa harus divaksin. Namun sikap ini biasanya mereka tampilkan hanya dalam forum terbatas. Jika sudah berbicara di forum terbuka mereka akan bicara mengikuti �alur mantera� yang diharuskan oleh profesi medis-nya.

Ahmad Thomson menggambarkan sistem medis kafir sebagai sebuah bisnis besar yang berkembang guna melestarikan proses produsen-konsumen. Sistem medis dalam Sistem Dajjal tidak pernah dimaksudkan untuk benar-benar menghapus penyakit dan menimbulkan kesehatan. Ia malah melestarikan penyakit dengan mencekoki masyarakat obat-obatan kimiawi yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Itulah sebabnya industri farmasi menjadi industri yang sangat profitable (menguntungkan secara bisnis). Tak kecuali fenomena yang disebut dengan vaksinasi. Vaksinasi merupakan salah satu cara massif untuk menimbulkan ketergantungan masyarakat kepada sistem medis dan sistem farmasi kafir.

Saudaraku, sungguh terasa bahwa zaman yang sedang kita jalani dewasa ini benar-benar merupakan zaman penuh fitnah. Seandainya Allah tidak melindungi dan merahmati kita, niscaya kita terancam oleh kekuatan kaum kuffar yang setiap saat menebar kemudharatan. Kemudharatan mana tidak hanya mengganggu aspek fisik diri kita, melainkan mencakup aspek pemahaman bahkan aqidah kita.

Hidup di babak keempat era Akhir Zaman sungguh menuntut kita untuk sangat memperhatilkan peringatan Allah di bawah ini:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا
فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
�Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.� (QS Al-An�aam ayat 123)

Kita tidak mengatakan bahwa Menteri Agama dan Menteri Kesehatan sebagai penjahat-penjahat yang terbesar sebagaimana Allah singgung di atas. Namun kita khawatir bahwa mereka telah menjadi bagian dari suatu sistem lebih besar yang mengharuskan semua elemennya untuk mendukung ide jahat para pembuat makar dalam Sistem Dajjal dewasa ini. Wallahu a�lam.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunujukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu batil, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya. (eramuslim)

Minggu, 19 April 2009

Gereja Dijual Dijadikan Masjid




Sebuah kelompok Muslim telah membeli sebuah bekas gereja katolik 'Queen of Peace' berikut biara dan sekolahnya, di jalan Genesee di kawasan Buffalo pinggiran kota New York AS dan berencana untuk menggunakan kompleks bekas gereja tersebut menjadi pusat komunitas Muslim dan masjid.

Gereja tersebut akan dirubah menjadi masjid dan dinamakan masjid Jami', yang artinya tempat untuk berkumpul bersama, kata Dr Hatim Hamad yang menjadi pimpinan kelompok orang tua Islam, serta yang mendanai pembelian masjid tersebut.

Yang menjadi alasan pembelian gereja beserta kompleksnya tersebut, mengingat keberadaan umat Islam yang terus berkembang di seluruh wilayah barat kota New York, sebelumnya umat Islam disana telah memiliki sembilan masjid dan masjid kesepuluh akan dibangun di jalan transit daerah Amherst.

Masjid Jami' nantinya akan difokuskan pada pembinaan anak-anak dan kegiatan-kegiatan ke Islaman serta menawarkan berbagai program kegiatan untuk pemuda.

"Kami ingin membangun masjid yang besar, tapi kami semua menginginkan masjid yang kami bangun akan banyak bermanfaat bagi masyarakat," kata Dr Hatim Hamad yang juga seorang asisten profesor klinik pada universitas Buffalo fakultas kedokteran gigi.

"Di kawasan Buffalo, benar-benar belum ada pusat komunitas untuk anak muda,"tambah Hamad."Dan bangunan ini sangat besar serta lokasinya tepat ditengah kawasan Buffalo."

Queen of Peace adalah gereja kedelapan di kawasan Buffalo yang dijual sejak tahun 2006. Gereja Queen of Peace ditutup pada akhir tahun 2007 yang lalu.

Pihak keuskupan sampai saat ini masih mencoba untuk menjual 30 properti lainnya termasuk di tujuh kota lain.

Gereja Queen of Peace dibangun pada akhir tahun 1920, dan properti komplek bangunan gereja tersebut sangat besar.

Sebelum dijual, banyak hiasan-hiasan gereja serta altar yang telah dijual kepada paroki Katolik di Colorado. Kebanyakan bangku gereja dan simbol-simbol katolik telah disingkirkan dari bangunan gereja tersebut, walau pun beberapa lukisan yang berada di dinding gereja masih ada.

Kelompok Muslim berencana untuk mengganti semua karpet dan lukisan-lukisan yang terdapat di dalam gereja.